Minggu, 25 April 2010

REFLEKSI SETENGAH ABAD PMII (Saatnya Mereformulasi Arah Gerakan)


RIJAL MUMAZZIQ ZIONIS*


Tepat pada 17 April tahun ini, organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) resmi berusia setengah abad. Apa yang bisa diharapkan dari organisasi ‘hijau’ ini saat menapak usia yang kian senja? 



Jika merujuk pada fakta historis, berdirinya organisasi ini memang tak lepas dari kegerahan generasi muda NU yang merindukan sebuah organisasi yang secara ideologis seakar dengan induk semangnya, namun membawa spirit progresivitas, militansi, dinamisasi intelektual, serta responsif terhadap perkembangan zaman.


 

Untuk itulah dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan PMII, tarik-menarik kepentingan tak terelakkan, terutama dalam merumuskan relasi ideologis dengan induk semangnya (baca: NU), maupun dalam konteks perubahan arah perpolitikan bangsa; pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru hingga Orde Baru ke Orde Reformasi.



Arah pergerakan organisasi kemahasiswaan ini, jika diamati dengan seksama menunjukkan pola gerakan ala Sunni; mencerminkan karakteristik elastis, dialogis, dan cenderung kurang reaksioner. Untuk itulah, di satu sisi, gerakan berpola seperti ini tampak pragmatis, namun di sisi lain mampu berdialog dengan zaman tanpa menimbulkan gesekan radikal. Dalam kontekstuasasinya, paham ke-Sunni-an ini termanifestasikan dalam perangkan doktrin Aswaja sebagai manhajul fikr (metodologi berpikir).

 



Mencari Jenis Kelamin PMII



Dalam usianya, tantangan berat yang dihadapi PMII sebenarnya bersifat internal, yakni tarik menarik idealisme antarkader PMII. Dengan kata lain, terdapat polarisasi kepentingan di dalam PMII sendiri dalam perumusan “jenis kelamin” organisasi. Ada yang masih menghendaki PMII sebagai pot penyemai bibit intelektual kaum muda.



 

Sebagian lagi mengehendaki PMII sebagai gerbong pengangkut kader ke wilayah kekuasaan. Ada juga yang menginginkan PMII menjadi anak ideologis dan penjaga tradisi NU. Ada pula yang mencita-citakan PMII sebagai bumi penyemai gerakan civil society. Pun tak sedikit yang menganggap PMII sebagaimana paguyuban; wadah silaturrahmi dan temu kangen para kader.



 

Begitulah, sebagai kader, saya melihat PMII saat ini masih belum establish dalam penentuan jenis kelamin. Sekali lagi, inilah tantangan internal organisasi “Perisasi Biru” ini.



 

Ke depannya, saya memimpikan adanya penegasan pada jenis kelamin PMII yang sebenarnya. Jika tidak, maka akan terjadi schizophrenia alias pecah kepribadian dalam tubuh PMII. “Situasi antara” (in between situation) ini jelas akan membingungkan para kader.



 

Adapun secara eksternal, PMII masih menghadapi tantangan klasik; pertarungan ideologi yang kian mengemuka. Saat ini, basis-basis gerakan mahasiswa secara garis besar terpetakan menjadi dua arus besar; “kiri” dan “kanan”. Dalam konteks pertarungan ini, konsep Aswaja sebagai manhajul fikr yang menjadi basis nilai perjuangan (di samping Nilai Dasar Pergerakan alias NDP) belum secara matang dikontekstualisasikan. Saripati Aswaja sebagai manhajul fikr (‘adalah, tawazun, tawassuth, tasamuh, dan amar ma’ruf nahi munkar), menurut saya, masih bersifat global dan kurang operasional-implementatif, sehingga konsep mentah tersebut masih belum ampuh menjadi perisai yang membentengi kader PMII dari tarik-menarik kepentingan antara ideologi “kiri” dan “kanan”. 

 



Persoalan klasik ini sebenarnya selesai manakala bangunan kelembagaan (institutional building) kokoh, operasional, dinamis, dan antisipatif teradap problem yang dihadapi. Sayangnya, capacity building (bangunan kapasitas) para pengurus masih menjadi biang keladi ketidakkokohan institutional building itu sendiri. Perkaranya terletak pada penempatan personel pengurus (yang lazimnya) didasarkan pada politik dagang sapi (bukan kualitas dan kapabilitas). Akibatnya, mekanisme roda organisasi seringkali terhambat (Tim Kaderisasi PKC Jatim, 2003: 7).

 



Maka, dalam usia setengah abad ini, PMII butuh me-refresh pola gerakannya agar tetap menjadi organisasi yang progresif dalam pemikiran, militan dalam kaderisasi, responsif dalam menjawab tantangan zaman, serta mampu menjadi pot penyemai bibit intelektual muda. Setidaknya ada beberapa faktor yang menjadi titik awal menuju reformulasi arah gerakan.



 

Pertama, secara kuantitas, basis massa PMII hanya terpusat di kampus-kampus agama Islam semacam IAIN, UIN, maupun STAI. Kampus-kampus tersebut seolah menjadi pemasok utama kebutuhan kader di PMII. Ke depannya, perlu terobosan yang inovatif agar basis massa PMII diperluas ke kampus-kampus umum. Pola pengaderan PMII, jika diamati hanya bertumpu pada pola pengaderan formal, sedangkan secara informal maupun non-formal kurang ‘dilirik’. Akibatnya, dari sekian banyak kader yang tersaring, sebagian hanya menjadi tabiin dan tabiut tabiin, bukan mejadi sahabat yang militan.



 

Kedua, dalam pemenuhan nutrisi intelektual, tampaknya kader-kader PMII lebih gandrung pada pemikir-pemikir “kiri” seperti Marx, Freire, Gramsci, Habermas, Hanafi, Arkoun, an-Naim, Asghar Ali, dan sebagainya. Dalam konteks perebutan wacana ideologis maupun pembentukan bangunan epistemologis, tawaran-tawaran kaum kiri tersebut masih relevan. Akan tetapi, sebagai anggota sebuah organisasi mahasiswa “Islam”, saya jarang menjumpai sahabat-sahabat yang dengan fasih mengutip pemikiran cemerlang Ibn Rusyd, Ibn Arabi, Ibn Miskawaih, Ibn Khaldun, al-Razy, al-Tawhidy, al-Thufy hingga al-Syathiby. Padahal, bangunan epistemologis yang dimapankan oleh intelektual Islam klasik tersebut masih relevan hingga saat ini.



 

Ke depannya, saya berharap arah reformulasi gerakan intelektual dilakukan dengan “mengawinkan” khazanah intelektual Islam klasik dengan progresivitas pemikiran kaum kiri. Dengan begitu, arah gerakan intelektual PMII yang bertumpu pada kaidah al-muhafadat ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah bisa menjadi dentuman intelektual yang kanonik.



 

Wa ba’du, dalam usia yang kian senja, PMII dituntut tetap kritis-responsif mencermati gerak zaman. Untuk itulah, soliditas gerakan menjadi pra-syarat utama yang harus dipenuhi untuk menjadi dinamis dan responsif. Soliditas gerakan mengandaikan terbentuknya faktor-faktor produksi wacana, distribusi kader, dan wilayah perebutan hegemoni antarorgan gerakan mahasiswa. Semoga. Salam pergerakan!




*Aktivis PMII Rayon Syariah  IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, sekarang aktif sebagai Derektur Majalah AULA NU Jawa Timur


Tulisan ini terbit diharian Duta Masyarakat pada Senin, 19 April 2010

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by marlaf sucipto dan moh. mukit | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons