Minggu, 25 April 2010

ADONIS DAN "NOVELISME" PMII


Rijal Mumazziq Zionis*




Hari ini (17/04) terasa istimewa bagi organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebab organisasi kemahasiswaan ini resmi berusia setengah abad. Lalu, di usia yang menapak senja ini, mampukah PMII me-refresh arah ge(b)rakannya?







Dalam konteks pemikiran, saya melihat tersendatnya persemaian bibit intelek-tual dalam tubuh PMII dan organisasi kemahasiswaan lain. Gejala yang agak menjengkelkan, terjadi sebuah “novelisme” dalam mainstream pemikiran anak-anak muda ini. Novel, dalam kamus Webster berarti 'new and unusual, being the first of its kind'. Novelisme, saya menyebutnya demikian, adalah kecenderungan ingin mengejar “mode” pemikiran terbaru, mutakhir, terkini, dst.




Dulu, tatkala revolusi Islam Iran sukses, ideolog Ali Syariati langsung digandrungi generasi kampus. Syariati begitu “seksi” sehingga menjadi inspirasi nan memikat. Begitu pamor revolusi Iran mudah pudar, Syariati “digantikan” pemikir neo-modernis Fazlurrahman. Nama terakhir ini begitu memikat karena didukung promosi tulisan-tulisan Cak Nur dan Syafii Maarif, dua murid Rahman. Begitulah, “novelisme” kian tumbuh subur seiring dengan gencarnya pembaruan pemikiran yang menjadi mode. Kian baru mode pemikiran tersebut, kian dianggap seksi. Hassan Hanafi muncul, lalu tersaingi Abdullahi Ahmed an-Naim, kemudian digeser Abed al-Jabiri. Mohammed Arkoun lalu menggantikan perubahan arus mode pemikiran, sebelum digantikan “bintang” anyar bernama Nasr Hamid Abu Zayd. Alhasil, terdapat kecenderungan memperlakukan sebuah pemikiran seolah-olah seperti handphone yang langsung tak laku begitu model terbaru tiba di pasaran.



Dalam kecenderungan novelisme di atas, semakin klasik sebuah pemikiran, segera saja ia menjadi out of date dan kurang seksi. Karena sejarah seperti ‘juggernaut’ yang melaju dengan cepat, maka semakin baru sebuah pemikiran, segera saja menggeser paradigma lawas. Tergantung expiry date-nya. Tak heran jika gagasan-gagasan cemerlang dari Ibn Khaldun, Ibn Rusyd, Ibn Miskawaih, al-Razy, al-Thufy, hingga al-Syathiby, kalah “seksi” dibandingkan dengan generasi pemikir baru yang lahir ratusan tahun setelah era nama-nama di atas.







Di sini, yang diperdebatkan penulis bukan hanya kecenderungan novelisme yang melanda kaum muda kampus, khususnya insan pergerakan. Lebih dari itu, kecenderungan ini juga tampak dalam konteks pemikiran secara umum di Indonesia. Kecenderungan impor pemikiran ini justru malah mematikan denyut kreativitas para (calon) pemikir-pemikir Indonesia. Hingga kini, secara umum, sangat sulit mencari intelektual (muda) yang sibuk wira-wiri secara komutatif antara tradisi masa lampau dan masa kini.




Melihat realitas demikian, saya teringat Adonis, penyair dan budayawan Arab kontemporer. Ia memunculkan istilah al-tsabit (yang tetap) dan al-mutahawwil (yang berubah). Istilah tersebut ia gunakan dalam judul bukunya yang sedikit memicu polemik dan kontroversi di dunia Arab tahun 1980-an, Al-tsabit wa al-mutahawwil : bahts fi al-ittiba’ wa al-Ibda’ ‘inda al-Arab (Yang tetap dan yang berubah: Pembahasan Perihal Epigonisme dan Inovasi di Dunia Arab). Adonis, melalui bukunya, melancarkan kritik yang argumentatif nan rumit terhadap kondisi bangsa Arab. Menurutnya, aspek al-Ittiba’ (epigonis) lebih menguat daripada watak al-Ibda’ (inovasi). Al-ibda’; menempuh jalan baru yang belum pernah ada sebelumnya, masih kalah moncer dibandingkan dengan al-Ittiba’ ; mengikuti pola yang sudah ada. Untuk itulah, ia sampai pada kesimpulan, terpuruknya bangsa Arab dalam pemikiiran, politik, dan kebudayaan adalah akibat sikap al-Ittiba’ tadi.




Peta pemikiran yang digelar Adonis di Arab, bisa jadi klop dengan konteks ke-Indonesiaan. Ya, terdapat kecenderungan al-Ittiba’ secara serampangan, terutama da-lam mainstream pemikiran di kalangan generasi kampus. Dalam hal ini, sebagai kader, saya melihat belum adanya al-Ibda’ di kalangan sahabat-sahabat PMII, terutama dalam membangun konstruksi arah perjuangan organisasi, berikut ge(b)rakan yang inovatif-progresif di bidang peningkatan kapasitas intelektual. Kalaupun ada, boleh jadi hanyalah ge(b)rakan gagasan dari “luar” yang diberi sampul “Indonesia”, persis merk mobil Timor itu.



Ke depannya, saya berharap pola kaderisasi PMII di bidang intelektual semakin diseriusi. Alangkah sayang jika kader-kader PMII, yang mayoritas lahir dari rahim pe-santren—yang menjadi pewaris khazanah intelektual klasik—malah mengikuti pola novelisme yang menjadi gejala umum di Indonesia. Minimnya ge(b)rakan intelektual, seolah menggambarkan betapa sepinya PMII (dan organ kemahasiswaan lain) dari generasi pemikir yang secara genuine mampu menyilangkan khazanah intelektual klasik dengan gagasan kontemporer, lalu mengkonstruksikan rancang bangun pemikiran Islam yang meng-Indonesia. Dirgahayu PMII.




Salam Pergerakan!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by marlaf sucipto dan moh. mukit | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons